Jumat, 12 Juni 2009

Perawatan Payudara dan IMD

BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Masalah gizi yang paling banyak terjadi di Indonesia pada saat ini adalah kurangnya kalori dan protein, hal ini banyak ditemukan pada bayi dan anak-anak. Terjadinya kerawanan gizi pada bayi lebih banyak disebabkan karena selain makanan yang kurang, juga karena Air Susu Ibu (ASI) banyak diganti dengan susu botol, dengan cara dan jumlah yang tidak memenuhi kebutuhan. Hal ini merupakan pertibu adanya perubahan sosial dan budaya yang berdampak negatif yang dapat mempengaruhi perkembangan bayi dan perkembangan generasi muda di Indonesia selanjutnya.1)

Sejumlah riset terhadap sejumlah bayi di lingkungan yang berbeda, termasuk kota – kota industri di barat menunjukkan bahwa bayi yang diberi ASI lebih jarang terkena infeksi pernafasan, infeksi telinga, infeksi saluran kemih, alergi, asma dan lain – lain. Dalam suatu percobaan sejumlah bayi hanya diberi ASI tanpa tambahan susu formula atau makanan padat lain hingga mereka berusia 15 minggu. Ternyata, hingga usia 7 tahun mereka terhindar dari penyakit radang saluran pernafasan. Sejumlah bayi yang diberi ASI dini hingga mereka berusia 13 minggu ternyata terhindar dari penyakit radang usus sampai mereka berusia 18 bulan atau 2 tahun. Pada riset di atas dengan memperhitungkan latar belakang social yang terlihat dari pengambilan sampel dari lingkungan yang berbeda menunjukkan bahwa perbedaan dalam pemberian ASI akan menunjukkan perbedaan kesehatan bayi tersebut. Dengan demikian disimpulkan bahwa penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan antara pemberian ASI terhadap kehidupan terutama kesehatan bayi 2)

Peningkatan pemberian ASI perlu dilakukan dalam upaya peningkatan kesehatan bagi bayi dan ibu, upaya tersebut dapat dilakukan antara lain dengan cara pemberian ASI dini3). Pemerintah telah berupaya dalam mensosialisasikan pemberian ASI termasuk ASI dini. Hal ini terbukti dengan telah dicanangkan Gerakan Nasional Peningkatan Penggunaan Air Susu Ibu (GNPPASI) oleh Presiden RI pada peringatan Hari Ibu tanggal 22 Desember 1990 yang bertemakan ” Dengan ASI kaum ibu mempelopori peningkatan kualitas manusia Indonesia ”. Pemberian ASI tanpa makanan lain khususnya pada enam bulan pertama setelah kelahiran disebut dengan menyusui secara eksklusif. Selanjutnya bayi perlu mendapatkan makanan pendamping ASI, sedangkan pemberian ASI diteruskan sampai anak berusia dua tahun 1).

ASI merupakan sumber gizi bagi bayi yang tidak tergantikan. Keunggulan ASI yang bersih, selalu segar, warna, bau, rasa, dan komposisi yang tidak dapat ditiru oleh susu lain bukan hanya merupakan sumber zat gizi bagi bayi tetapi juga zat anti kuman yang kuat karena adanya beberapa faktor yang bekerja secara sinergi membentuk suatu sistem imunologi.2, 4)

Meskipun ASI begitu penting bagi bayi, namun masih banyak Ibu yang tidak memberikan ASI pada bayinya. Berdasarkan data di Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali pada Tahun 2007 tingkat pencapaian ASI eksklusif baru dapat mencapai 46,7 % sedangkan di Jawa Tengah cakupan ASI eksklusifnya baru 27,49%. Pencapaian cakupan ASI eksklusif ini dirasakan masih sangat rendah sekali bila dibandingkan dengan target Nasional yang diharapkan 80% bayi mendapat ASI. 5)

Beberapa faktor penyebab yang berhubungan dengan tidak tercapainya pemberian ASI pada bayi antara antara lain : puting susu tidak menonjol sehingga bayi sulit menghisap, produksi ASI sedikit sehingga tidak cukup dikonsumsi bayi, infeksi pada payudara, payudara bengkak atau bernanah, muncul benjolan di payudara, gizi kurang, puting tidak menonjol dan lain- lain 6). Kesemuannya perawatan semasa kehamilan

Perawatan payudara selama kehamilan adalah salah satu bagian penting yang harus diperhatikan sebagai persiapan untuk menyusui nantinya. Payudara perlu dipersiapkan sejak masa kehamilan sehingga bila bayi lahir dapat segera berfungsi dengan baik pada saat diperlukan. Pengurutan payudara untuk mengeluarkan sekresi dan membuka duktus dan sinus lacteriforus sebaiknya dilakukan secara hati-hati dan benar karena pengurutan yang salah dapat menimbulkan kontraksi pada rahim sehingga terjadi kondisi seperti pada uji kesejahteraan janin menggunakan uterotonika. Basuhan lembut setiap hari pada areola dan puting susu akan dapat mengurangi retak dan lecet pada area tersebut tetapi perlu diingat setelah usia kehamilan lebih 34 minggu. Untuk sisa sekresi ASI yang mengering pada puting susu, lakukan pembersihan dengan menggunakan campuran gliserin dan alkohol. Karena payudara menegang, sensitif dan menjadi lebih berat maka sebaiknya gunakan penopang payudara yang sesuai (brassiere). 7)

Saat kehamilan payudara akan membesar dan daerah sekitar putting akan lebih gelap warnanya (hyperfigmentasi) dan juga lebih sensitif. Semua ini terjadi untuk persiapan ibu hamil untuk memberikan ASI pada bayinya kelak.2,8,9). Disamping perawatan payudara dengan perlakuan massase, ibu hamil juga memerlukan istirahat yang cukup, mengendalikan tingkat emosional, dan makan makanan dengan gizi seimbang terutama mengkonsumsi tablet Fe secara rutin. Perawatan payudara juga sangat membantu keberhasilan dalam pemberian ASI dini. Inisiasi Menyusui Dini. (IMD) dimana menyusu dini bayi akan mendapat kolostrum yang sangat bermanfaat bagi bayi.

Inisiasi menyusui dini merupakan hal yang masih baru bagi masyarakat di Indonesia khususnya di pedesaan. Hal tersebut dapat dimaklumi sebab baik tenaga kesehatan maupun orang tua selama berpuluh-puluh tahun tidak menyadari bahwa bayi bisa merangkak mencari putting susu ibu untuk menyusu padahal bayi tersebut baru lahir. Dan selama berpuluh­-puluh tahun pula, baik tenaga kesehatan maupun orang tua berpendapat bahwa bayi baru lahir tidak mungkin dapat menyusu sendiri juga bagi ibu banyak beranggapan ASI merasa belum keluar atau tidak cukup sehingga langsung mencari pengganti ASI, diberi madu atau yang lain. Selama ini untuk mendapat ASI yang pertama kalinya, bayi harus dibantu dengan memasukkan puting susu ke mulut bayi atau menyusuinya. Padahal, bayi baru lahir belum siap menyusu sehingga jika ibu menyusui bayi untuk pertama kali, kadang bayi hanya melihat dan menjilat puting susu, bahkan kadang menolak tindakan yang mengganggunya ini. Dari keterangan di atas maka pengertian Inisiasi menyusu dini (early initiation) atau permulaan menyusu dini adalah bayi mulai menyusu sendiri segera setelah lahir11). Bayi manusia seperti juga bayi mamalia lain mempunyai kemampuan untuk menyusu sendiri, melalui kontak kulit bayi dengan kulit ibunya, setidaknya selama satu jam segera setelah lahir. Cara bayi melakukan inisiasi menyusu dini ini dinamakan “the breast crawl” atau merangkak mencari payudara.10)

Disamping perawatan payudara saat ibu hamil juga pemerintah sedang gencar menganjurkan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). IMD bukan program ibu menyusui bayi tetapi bayi yang harus aktif menemukan sendiri putting susu ibu. Program ini dilakukan dengan cara meletakkan bayi yang baru lahir di dada ibunya segera setelah bayi lahir dan membiarkan bayi ini merayap untuk menemukan puting susu ibu untuk menyusu. 11) IMD dilakukan langsung saat bayi lahir segera setelah tali pusat dipotong, tanpa boleh ditunda dengan kegiatan menimbang atau mengukur bayi. Bayi juga tidak boleh dimandikan, hanya dikeringkan kecuali tangannya. Proses ini harus berlangsung skin to skin antara bayi dan ibu12)

Dari hasil penelitian di dalam dan luar negeri, ternyata inisiasi menyusu dini tidak hanya mensukseskan pemberian ASI eksklusif. Lebih dari itu, terlihat hasil yang nyata, yaitu menyelamatkan nyawa bayi. Oleh karena menyusu dalam satu jam pertama bayi baru lahir sangat berperan dalam menurunkan angka kematian bayi karena mendapat kolostrum juga dengan adanya kontak skin to skin dapat menurunkan hypothermia pada bayi dengan demikian menyusu pada satu jam pertama menyelamatkan satu juta nyawa bayi karena hypothermia.

Bayi merasa aman apabila melakukan kontak kulit dengan ibu. Ternyata suhu payudara ibu meningkat 0,5 0 C dalam dua menit jika bayi diletakkan di dada ibu. Berdasarkan penelitian Dr. Niels Bergman (2005) dalam Roesli Utami (2008)11, ditemukan bahwa suhu dada ibu yang melahirkan menjadi 1 0 C lebih panas daripada suhu dada ibu yang tidak melahirkan. Jika bayi diletakkan di dada ibu ini kepanasan, suhu dada ibu akan turun 1 0 C. Jika bayi kedinginan, suhu dada ibu akan meningkat 2 0 C untuk menghangatkan bayi. Jadi dada ibu yang melahirkan merupakan tempat terbaik bagi bayi yang baru lahir dibandingkan tempat tidur mahal.11)

Hasil penelitian lainnya menunjukkan bahwa dalam satu tahun rata-rata empat juta jiwa bayi berusia 28 hari meninggal. Jika semua bayi di dunia segera diberi kesempatan menyusu sendiri dengan membiarkan kontak kulit ibu ke kulit bayi setidaknya selama satu jam maka satu juta nyawa ini dapat diselamatkan.11)

Berdasarkan survey pendahuluan di Rumah Bersalin Anisa Boyolali pada tanggal 14 Januari 2009, dari 12 ibu bersalin hanya 4 (30%) ibu saja yang memberikan ASI-nya segera setelah melahirkan, itupun diberikan setelah bayi sudah bersih dan dilaksanakan di bangsal perawatan. Kemudian dijajaki lagi dengan melakukan survey lapangan pada tanggal 20 Januari 2009 di Kelurahan Karanggeneng. Hasil wawancara dengan 10 orang ibu pasca salin, yang melakukan perawatan payudara waktu hamil 2 orang (20%) dan yang melakukan IMD segera setelah persalinan tidak ada yang melakukan dengan alasan tidak tahu dan tidak dialakukan oleh petugas kesehatan/ bidan. Hal tersebut tidak hanya di RB Annisa saja tetapi ditempat pelayanan yang lain seperti RB Aulia, RB Mutiara Kasih dan sebagainya khususnya wilayah Boyolali.

Dari data 10 ibu tersebut yang menyusui bayi secara ekslusif atau hanya ASI saja didapatkan 6 ibu dan 4 ibu memberikan ASI tapi masih memberikan susu botol karena ASI tidak mencukupi dengan bayi yang masih menangis dan rewel.

karena pentingnya ASI dan banyak manfaatnya maka di pibung perlu untuk melakukan penelitian tentang perawatan payudara dan inisiasi menyusu dini dengan produksi ASI pada ibu pasca bersalin di Rumah Bersalin Annisa Boyolali.


B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : “Apakah ada hubungan perawatan payudara dan inisiasi menyusu dini dengan produksi ASI pada ibu pasca bersalin di Rumah Bersalin Annisa Boyolali ?”


C. Tujuan Penelitian

        1. Tujuan Umum

Mengetahui hubungan perawatan payudara dan inisiasi menyusu dini dengan produksi ASI pada ibu pasca bersalin ?

        1. Tujuan Khusus

a. Mengetahui pelaksanaan perawatan payudara saat hamil pada ibu pasca bersalin

b. Mengetahui pelaksanaan inisiasi menyusu dini ibu bersalin

c. Mengetahui produksi ASI Ibu Bersalin

d. Mengetahui hubungan perawatan payudara dengan produksi ASI ibu pasca bersalin

e. Mengetahui hubungan inisiasi menyusu dini dengan produksi ASI pada ibu pasca bersalin


D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Bagi Peneliti

Sebagai salah satu tahapan proses belajar dalam merencanakan dan melaksanakan penulisan ilmiah dalam bentuk skripsi


2. Bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk bahan informasi bagi kepentingan pendidikan dan tambahan kepustakaan dalam pengembangan ilmu di Fakultas Kesehatan Masyarakat jurusan kesehatan Ibu dan Anak

3. Bagi institusi atau tempat penelitian

Sebagai bahan input untuk evaluasi program peningkatan pemberian ASI khususnya dan perawatan payudara ibu saat hamil dan melahirkan, dalam rangka membantu program pemerintah.untuk mensukseskan keberhasilan pemberian ASI Eklusif

4. Bagi ibu Bersalin dan ibu menyusui

Sebagai tambahan pengetahuan dalam perawatan payudara dan inisiasi menyusu dini serta mafaatnya , menuju terlaksananya pemberian ASI

5. Bagi Bayi

ASI merupakan makanan yang terbaik bagi bayi, meningkatkan imunitas (mengurangi risiko diare, infeksi jalan nafas, alergi dan infeksi lainnya), mempererat jalinan kasih sayang antara ibu dan bayi

6. Bagi Negara

Memberikan kontribusi dalam penghematan devisa negara, menghemat sumber dana yang terbatas dan kelangkaan pangan, menghemat biaya pengobatan.



E. Ruang Lingkup Penelitian

1. Lingkup Masalah

Permasalahan dibatasi pada factor perawatan payudara dan inisiasi menyusu dini dengan produksi ASI pasca persalinan

2. Lingkup Keilmuan

Penelitian ini merupakan penelitian di bidang Kesehatan Masyarakat, khususnya kesehatan ibu dan anak.

3. Lingkup Sasaran

Sasaran dalam penelitian ini adalah ibu pasca salin di RB Annisa Boyolali.

4. Lingkup Teknik

Penelitian ini menggunakan teknik wawancara tertutup dengan menggunakan kuesioner dan pengamatan lansung (observasi) di lokasi penelitian

5. Lingkup Waktu

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April s/d Mei 2009


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


  1. Tinjauan Pustaka

        1. ASI

ASI adalah suatu lemak dalam larutan protein, laktosa dan garam-garam organic yang di eksresikan oleh kelenjar payudara ibu sebagai makanan bagi bayi 2).

Berdasarkan stadium laktasi, komposisi ASI di bagi menjadi 3 bagian yaitu : 13)

a. Kolustrum yang merupakan cairan yagn pertama kali di sekresi oleh kelenjar payudara mengandung jaringan dan desidua material yang terdapat aveola dan duktus kelenjar payudara sebelum dan setelah masa puerpurium.

b. Asi masa transisi atau peralihan yang merupakan ASI peralihan dari kolustrom sampai menjadi ASI yang matur. Disekresikan dari hari keempat sampai hari kesepuluh dari masa laktasi, tetapi ada pula pendapat yang mengatakan ASI matur baru terjadi pada minggu ke tiga sampai minggu ke lima.

c. ASI matur merupakan ASI yang disekresikan pada hari kesepuluh dan seterusnya dengan komposisi relative (ada pula yang mengatakan bahwa komposisi ASI relative konstan baru mulai minggu ketiga sampai minggu ke lima.

Apabila produksi ASI tidak sesuai dengan kebutuhan bayi, harus dicari sebab-sebabnya mengapa produksi ASI menurun yaitu : 6)

a. Makanan suplemen.

Bayi yang mendapatkan suplemen makanan selai ASI menyebabkan akan kenyang dan harus menunggu lebih lama menyusu berikutnya. Sehingga frekuensi menyusui dan produk ASI akan menurun.

b. Penggunaan empongan (pacifier)

Beberapa bayi menemukan dengan menghisap pada empongan, sehinga menurunkan kesempatan untuk menyusu pada ibu.

c. Penggunaan dot (Nipple shield)

Nipple shield sebaiknya tidak digunakan pada waktu menyusui, karena bayi akan mengalami bingung puting dan mengakibatkan menurunnya isapan sehingga mempengaruhi terjadinya let down reflect

d. Jadwal minum yang ketat akan mempengaruhi produksi ASI lebih baik bayi disusui tanpa jadwal

e. Bayi tidur saja.

Ada beberapa bayi yang tidur saja hampir sepanjang hari dan hanya sebentar saja menyusu maka ini menurunkan produksi ASI, lebih baik bayi disusui tanpa jadwal.



f. Merokok dan obat-obatan.

Ibu perokok berat produksi ASInya akan menurun. Demikian juga pil KB yang mengandung estrogen tinggi akan menurunkan produksi ASI.

g. Ibu yang sedikit minum, produksi ASI-nya juga akan berkurang. Ibu menyusi sebaiknya minum 6 – 8 gelas/hari atau minum susu atau air teh/ juice setiap kali setelah menyusui.

h. Diet ibu yang jelek, akan menurunkan produksi ASI.

Pada ibu-ibu yang menyusui tidak ada pantangan makanan, buah segar, daging, ikan, susu, sayur-sayuran, kacang-kacang sangat dianjurkan, makan satu prosi (500 kalori) lebih banyak dari biasanya, perawatan payudara selama kehamilan dan melalukan inisiasi dini saat bayi lahir.


        1. Perawatan Payudara

a. Perawatan Payudara

Perawatan payudara sangat penting dilakukan selama hamil sampai masa menyusui. Hal ini karena payudara merupakan satu-satunya penghasil ASI yang merupakan makanan pokok bayi yang baru lahir sehingga harus dilakukan sedini mungkin. 8, 14)




b. Metode Perawatan Payudara

Hal yang tidak boleh dilupakan untuk persiapan menyusui adalah perawatan payudara selama masa kehamilan (bukan setelah persalinan).

Beberapa tips perawatan payudara selama kehamilan :9, 15, 16)

1) Bila BH ibu sudah mulai terasa sempit, sebaiknya mengantinya dengan BH yang pas dan sesuai dengan ukuran ibu untuk memberikan kenyamanan dan juga support yang baik untuk ibu.

2) Bila ibu berencana untuk menyusui, ibu dapat memulai menggunakan BH untuk menyusui pada akhir kehamilan ibu. Pilihlah BH yang ukurannya sesuai dengan payudara ibu, memakai BH yang mempunyai ukuran yang tidak sesuai dengan ukuran payudara diantaranya dapat menyebabkan infeksi seperti mastitis (suatu infeksi pada kelenjar susu di payudara).

3) Persiapan putting susu ibu. Dengan lembut putar putting antara telunjuk dan ibu jari ibu sekitar 10 detik sewaktu ibu mandi. Jika ibu mendapatkan kesulitan atau puting susu ibu rata atau masuk kedalam, konsultasikan ke dokter atau bidan, sehingga hal ini dapat diatasi dini untuk mencegah kesulitan nantinya.

4) Pada tahap akhir bulan kehamilan, cobalah untuk memijat lembut payudara didaerah aerola dan puting susu, mungkin akan mengeluarkan beberapa tetes kolustrum (cairan kental bewarna kekuningan dari putting). Untuk membantu membuka saluran susu.

5) Bersihkan payudara dan puting, jangan mengunakan sabun didaerah putting dapat menyebabkan daerah tersebut kering. Gunakan air saja lalu keringkan dengan handuk.


Dengan melakukan perawatan payudara dengan benar dan teratur, selain memudahkan bayi menghisap ASI juga menjaga kebersihan payudara sehingga mencegah penyumbatan. Selain itu juga bermanfaat untuk memperkuat kulit sehingga mencegah terjadinya luka/ lecet pada saat mulai menyusui. Timbulnya luka ini merupakan gangguan yang sering terjadi dan berpotensi mengganggu pemberian ASI pada bayi seterusnya.

Perawatan payudara ini sebaiknya dimulai begitu memasuki masa stabil kehamilan, yaitu pada usia kehamilan setelah 34 minggu. Hal-hal yang perlu diperhatikan setiap kali sebelum dan selama melakukan perawatan adalah : 9,11)

1) Potong kuku tangan sependek mungkin, serta kikir agar halus dan tidak melukai payudara.

2) Cuci bersih tangan dan terutama jari tangan.

3) Lakukan pada suasana santai, misalnya setelah mandi sore atau sebelum berangkat tidur.

4) Apabila kandungan terasa menegang/kencang segera hentikan. Hindari melakukan perawatan payudara terlalu berlebihan. Lakukan setiap hari secara teratur. Pada saat kondisi badan tidak enak tidak perlu dipaksakan.


Di beberapa klinik persalinan sering diadakan program perawatan payudara dengan bimbingan instruktur khusus. Program ini bertujuan meningkatkan produksi ASI. Meski demikian disarankan untuk tidak melakukan pijat payudara dengan cara sendiri pada kehamilan masih kurang dari 34 minggu karena berpotensi merangsang terjadinya kelahiran prematur. Sebenarnya ada cara yang lebih praktis dan dengan risiko yang lebih rendah untuk meningkatkan produksi ASI. Yang sering dianjurkan adalah gerakkan badan secara alami. Misalnya lakukan pekerjaan rumah seperti biasa (asal bukan yang mengangkat beban berat) seperti menyapu, menjemur baju, dan lain-lain. Gerakan-gerakan dalam melakukan pekerjaan rumah ini memiliki efek sama dengan pijat payudara.8)

Yang perlu melakukan pijat payudara terutama adalah yang memiliki bentuk puting yang agak sulit dihisap oleh bayi atau puting tenggelam. Hanya perlu diingat, bahwa pijat disini berbeda dengan pijat untuk merangsang produksi ASI, tetapi lebih ditekankan pada bagian puting saja. 8,11)

1) puting kecil

Karena bagian puting menonjol dan keluar, tipe ini mudah untuk dibuat agar mudah dihisap bayi. Pada prinsipnya harus dibuat agar puting semakin menonjol keluar. Ini bisa dilakukan dengan memakai alat penghisap puting, atau dengan memegang puting dan lingkar puting dan menariknya. Ini sebaiknya dilakukan setiap hari.

2) puting besar

Ini merupakan tipe puting yang paling mudah dihisap bayi. Meski demikian, adakalanya karena ukurannya yang besar menimbulkan keraguan ibu butuh penyesuaian, pada bayi untuk menghisapnya. Namun biasanya bayi akan segera terbiasa sehingga tidak ada masalah. Meski demikian, lakukan pijat ringan di bagian puting dan lingkar puting sehingga menjadi lunak dan mudah dihisap bayi.

3) puting datar

Meski puting menonjol dan keluar namun permukaannya datar (pendek dan kaku). Ini termasuk tipe puting yang susah dihisap. Untuk itu dianjurkan membuat puting dan lingkar puting menjadi lunak dengan melakukan pijatan ringan setiap hari.



4) puting tenggelam

Puting seolah tenggelam atau terbenam di dalam payudara. Ini merupakan tipe puting yang paling sulit dihisap bayi. Selain itu, karena kurangnya rangsangan pada puting karena posisinya yang tenggelam, cenderung lebih mudah mengalami luka atau lecet pada saat mulai menyusui. Untuk itu dianjurkan melakukan pijat di lingkar puting agar menjadi lunak serta meningkatkan kekuatan kulit agar tidak mudah terluka saat dihisap bayi. Tentu saja perlu dilakukan pijatan atau tarikan agar puting semakin menonjol keluar.


Cara paling praktis melakukan terapi untuk membentuk puting agar mudah dihisap adalah dengan memakai alat penghisap (gambar A). Atau memakai pelapis payudara yang berlubang di tengahnya (gambar B) dan dipasang antara payudara dan BH. Yang terpenting adalah dilakukan setiap hari. Pelapis payudara meski praktis dan bisa dipakai lama dan dengan sendirinya lebih efektif, memiliki kelemahan terlalu menekan payudara dan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi pemakainya. Untuk itu tidak dianjurkan memakainya terlalu lama setiap hari.

Cara lain adalah melakukan pijatan dengan tangan terhadap kedua puting (kanan dan kiri). Ini bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut :

Untuk selain tipe puting tenggelam atau datar bisa dibedakan menjadi tipe puting tenggelam atau datar, tahan dan angkat payudara dengan salah satu telapak tangan dan tekan tepat pada bagian puting dengan telunjuk sampai 2 hitungan kemudian lepas.

Segera setelah dilepas tarik puting dengan ibu jari dan telunjuk sampai 2 hitungan dan lepas.

Tahan dan angkat payudara dengan salah satu telapak tangan dengan posisi payudara diantara ibu jari dan telunjuk serta telapak sedikit menekan dasar payudara seperti di gambar.

Letakkan puting diantara ibu jari dan telunjuk serta jari tengah. Arahkan puting ke arah atas sehingga anda bisa melihat ujung punting. Bila keluar cairan dari puting, segera bersihkan dengan lap bersih.

Pijat sekeliling lingkar puting memakai ujung jari seolah membentuk lingkaran selama sekitar 1-2 menit. Bila lingkar puting sudah terasa lunak, lakukan pada puting sebelahnya.

Tarik ujung puting memakai ujung jari, serta putar ke kiri atau ke kanan selama 2-3 menit. Lakukan tarikan atau putaran ini sejauh tidak sampai terasa sakit. Terutama setelah memasuki usia kehamilan 36 minggu lakukan pijatan ini untuk membuka saluran susu.


c. Kegunaan Perawatan Payudara

Perawatan payudara selama hamil memiliki banyak manfaat, antara lain : 8)

1) Menjaga kebersihan payudara terutama kebersihan puting susu.

2) Melenturkan dan menguatkan puting susu sehingga memudahkan bayi untuk menyusu.

3) Merangsang kelenjar-kelenjar air susu sehingga produksi ASI banyak dan lancar.

4) Dapat mendeteksi kelainan-kelainan payudara secara dini dan melakukan upaya untuk mengatasinya.

5) Mempersiapkan mental (psikis) ibu untuk menyusui.

Bila seorang ibu hamil tidak melakukan perawatan payudara dengan baik dan hanya melakukan perawatan menjelang melahirkan atau setelah melahirkan maka sering dijumpai kasus-kasus yang akan merugikan ibu dan bayi. Kasus-kasus yang sering terjadi antara lain :

1) ASI tidak keluar. Inilah yang sering terjadi. Baru keluar setelah hari kedua atau lebih.

2) Puting susu tidak menonjol sehingga bayi sulit menghisap.

3) Produksi ASI sedikit sehingga tidak cukup dikonsumsi bayi.

4) Infeksi pada payudara, payudara bengkak atau bernanah.

5) Muncul benjolan di payudara, dan lain - lain.


        1. Tanda- tanda ASI cukup dan kurang17)

Pengaturan makanan yang berhasil akan tercermin dalam pertumbuhan dan perkembangan bayi yang memuaskan. Umumnya kecukupan makanan akan dapat diperkirakan dari masukan makanan. Kecukupan ASI sulit dinilai secara obyektif, tetapi kecukupannya dapat diperkirakan dengan menganalisa pertumbuhan bayi atau dapat diketahui pula dari penambahan berat badan bayi sesudah disusukan “bayi ditimbang sebelum dan sesudah disusukan”, asal saja pada wktu tersebut bayi tidak muntah, buang air besar atau kencing. Dengan demikian secara tidak langsung, ASI dinilai cukup bila :

a. Berat badan waktu lahir telah tercapai kembali sekurang-kurangnya pada akhir minggu kedua setelah lahir dan selama itu tidak terjadi penurunan berat badan yang lebih dari 10 %.

b. Kurva pertumbuhan berat badan memuaskan, yaitu menunjukkan kenaikan berat badan sebagai berikut 1) selama triwulan ke – 1 : kenaikan berat badan 150 – 250 g/minggu. 2) selama triwulan ke-2 kenaikan berat badan 500 – 600 g/minggu. 3) selama triwulan ke-3 kenaikan berat badan 350 – 450 g/minggu. 4) selama triwulan ke-4 kenaikan berat badan 250 – 350 g/minggu.

c. Atau pada waktu umur 4 – 5 bulan berat badan menjadi 2 kali lipat berat badan waktu lahir dan menjadi 3 kali lipat pada umur 1 tahun.


        1. Produksi ASI.

Komposisi ASI dari satu ibu ke ibu lainnya berbeda, komposisi ASI ternyata tidak tetap dan tidak sama dari waktu-ke waktu dan sesuai dengan kebutuhan bayinya.

Jenis-jenis ASI sesuai dengan perkembangan bayi ada 3 yaitu :11

a. ASI Kolostrum merupakan cairan pertama yang keluar dari kelenjar payudara dan keluar pada hari ke 1 sampai hari ke 7. Untuk volume berkisar 150 – 300 ml/24 jam

b. ASI Transisi/peralihan, merupakan ASI yang keluar pada hari ke-4 sampai ke 14.

c. ASI matur, merupakan ASI yang diproduksi sejak hari ke 14 dan seterunya.

Kecukupan ASI dapat dilihat juga melalui pengamatan di bawah ini : 18)

a. Bayi tampak puas dan tidur nyenyak setelah menyusu. Sewaktu-waktu sering merasa lapar dan cukup tidur, namun bayi yang selalu tidur bukan pertibu baik

b. Ibu merasakan perubahan tegangan pada payudara sebelum dan sesudah menyusukan dan merasakan aliran ASI yang cukup deras/banyak selama menyusu.

c. Bayi menyusu sedikitnya 8-12 kali dalam sehari.

d. Bayi kencing setidaknya 1-2 kali dalam 24 jam pada hari pertama dan minimal 6 kali setelah hari ketiga.

e. Bayi buang air besar 3-4 kali dalam 24 jam, faesesnya sekitar 1 sendok makan berwarna kekuningan.

f. Bayi mengalami peningkatan berat badan lebih dari 15-30 gram per hari setelah air susu matur keluar

g. Payudara ibu teraba lembut dan ringan setiap kali selesai menyusui.

h. Ibu dapat merasakan aliran ASI ketika bayi menyusu.

i. Ibu dapat merasakan hisapan kuat mulut bayi.

j. Ibu merasa nyaman dan tak kesakitan pada payudara ketika bayi menyusu.

j. Keluar air susu/ memancar dari putting ibu

Kecukupan ASI diukur dari daya tampung lambung bayi dapat dihitung sebagai berikut, pada hari pertama, ukuran lambung bayi dapat disetarakan dengan ukuran kelereng (5 – 7 ml). Mulai hari ke- 3, kapasitasnya sedikit meningkat menjadi 14 – 16 ml atau sebesar kelereng besar. Hari ke-10, lambung bayi kira-kira sebesar bola pingpong atau daya tampunya 60 – 80 ml.31


        1. Inisisasi Menyusu Dini 19)

a. Definisi Inisiasi Menyusu Dini

Inisiasi menyusu dini (early initiation) atau permulaan menyusu dini adalah bayi mulai menyusu sendiri segera setelah lahir. Bayi manusia seperti juga bayi mamalia lain mempunyai kemampuan untuk menyusu sendiri, melalui kontak kulit bayi dengan kulit ibunya, setidaknya selama satu jam segera setelah lahir. Cara bayi melakukan inisiasi menyusu dini ini dinamakan the breast crawl atau merangkak mencari payudara.11)

Ada beberapa “intervensi” yang dapat mengganggu kemampuan alami bayi untuk mencari dan menemukan sendiri payudara ibunya. Diantaranya, obat kimiawi yang diberikan saat ibu melahirkan bisa sampai ke janin melalui plasenta dan mungkin menyebabkan bayi sulit menyusu pada payudara ibu. Kelahiran dengan obat-obatan atau tindakan, seperti operasi Caesar, vakum, forcep, bahkan perasaan sakit di daerah kulit yang digunting saat episiotomi dapat pula mengganggu kemampuan alamiah ini. 11)

Informasi ini penting untuk tenaga kesehatan, keluarga, sebelum melakukan IMD. Juga dianjurkan untuk menciptakan suasana yang tenang, nyaman, dan penuh kesabaran untuk memberi kesempatan bayi merangkak mencari payudara ibu atau the breast crawl.17)

b. Tujuan Inisiasi Menyusu Dini

Inisiasi menyusu dini dapat mengurangi 22 % kematian bayi 28 hari. Sekitar 40 % kematian balita pada satu bulan pertama kehidupan bayi. Inisiasi menyusu dini meningkatkan keberhasilan menyusu ekslusif dan lama menyusu sampai dua tahun. Dengan demikian dapat menurunkan angka kematian anak secara menyeluruh.

Inisiasi menyusu dini juga berperan dalam pencapaian tujuan Millenium Development Goals (MDGs) yakni :

1) Membantu mengurangi kemiskinan

Jika seluruh bayi yang lahir di Indonesia dalam setahun disusui secara ekslusif enam bulan, berarti biaya pembelian susu formula selama enam bulan tidak ada.


2) Membantu mengurangi kelaparan

Pemberian ASI membantu memenuhi kebutuhan makanan bayi sampai dua tahun juga mengurangi angka kejadian kurang gizi dan pertumbuhan yang terhenti yang umumnya terjadi pada usia ini.

3) Membantu mengurangi angka kematian bayi dan anak


c. Manfaat Inisiasi Menyusu Dini 11)

1) Dada ibu menghangatkan bayi dengan tepat selama bayi merangkak mencari payudara. Ini akan menurunkan kematian karena kedinginan (hypothermia).

2) Ibu dan bayi merasa lebih tenang. Pernafasan dan detak jantung bayi lebih stabil. Bayi akan lebih jarang menangis sehingga mengurangi pemakaian energi.

3) Saat merangkak mencari payudara, bayi memindahkan bakteri dari kulit ibunya, dan ia akan menjilat-jilat kulit ibu, menelan bakteri “baik” dari kulit ibu.. Bakteri “baik: ini akan berkembangbiak membentuk koloni di usus bayi, menngurangi bakteri “jahat” dari lingkungan.

4) Bounding (ikatan kasih sayang) antara ibu dan bayi akan lebih baik karena pada 1 – 2 jam pertama, bayi dalam keadaan siaga. Setelah itu, biasanya bayi tidur .

5) Makanan awal non-ASI mengandung zat putih telur yang bukan berasal dari susu manusia, misalnya dari susu hewan. Hal ini dapat mengganggu pertumbuhan fungsi usus dan mencetuskan alergi lebih awal.

6) Bayi yang diberi kesempatan menyusu dini lebih berhasil menyusu ekslusif dan akan lebih lama disusui, fungsinya ASI sangat cukup untuk tumbuh kembang bayi dengan baik, sebagai titik awal kualitas sumber daya manusia, ASI juga sebagia alat kontrasepsi tiga bulan dan memperkecil kejadian kanker payudara. 20)

7) Hentakan kepala bayi ke dada ibu, sentuhan tangan bayi di puting susu dan sekitarnya, emutan dan jilatan bayi pada puting ibu merangsang pengeluaran hormon oksitosin.

8) Hormon oktitosin akan bekerja sama dengan hormone prolaktin yang akan menyebabkan otot kecil di sekeliling alveoli mengerut sehingga mengalirkan air susu ke puting, pengeluaran oksitosin juga menyebabkan rahim berkontraksi dan membantu pengeluaran plasenta serta mengurangi perdarahan.

9) Bayi mendapat ASI kolostrum, ASI yang pertama kali keluar. Kolostrum, ASI istimewa yang kaya akan daya tahan tubuh, penting untuk ketahanan terhadap infeksi, penting untuk pertumbuhan usus bayi yang masih belum matang sekaligus mematangkan dinding usus.

10) Ibu dan ayah akan merasa bahagia bertemu dengan bayinya untuk pertama kali dalam kondisi seperti ini. Bahkan, ayah mendapat kesempatan mengajarkan anaknya di dada ibunya. Suatu pengalaman batin bagi ketiganya yang amat indah.

d. Tata Laksana Inisiasi Menyusu Dini11)

1) Inisiasi menyusu dini sangat membutuhkan kesabaran dari sang ibu dan rasa percaya diri sang ibu, dan rasa percaya diri yang tinggi dan membutuhkan dukungan yang kuat dari sang suami dan keluarga, jadi akan membantu ibu apabila saat inisiasi menyusu dinisuami atau keluarga mendampinginya.

2) Disarankan untuk tidak atau mengurangi penggunaan obat kimiawi saat persalinan. Dapat diganti dengan cara non kimiawi, misalnya pijat, aroma terapi, Hypnoterapi, (Hypnorelaksasi).

3) Biarkan ibu menentukan cara melahirkan yang di inginkan, misalnya melahirkan di dalam air, atau dengan jongkok.

4) Setelah bayi dilahirkkan, seluruh badan dan kepala bayi dikeringkan secepatnya, kecuali tangannya. Lemak putih atau vernixaseosa yang menyamankan kulti bayi sebaiknya dibiarkan.

5) Bayi ditengkurapkan di dada atau di perut ibu dengan skin to skin contact, posisi ini dipertahankan minimum satu jam atau setelah menyusui awal selesai. Keduanya diselimuti. Jika perlu gunakan topi bayi.

6) Bayi dibiarkan mencari puting susu ibu. Ibu dapat merangsang bayi dengan sentuhan lembut, tetapi tidak memaksa bayi keputing susu.

7) Ayah didukung agar membantu ibu untuk mengenali tibu-tibu atau perilaku bayi sebelum menyusu yang dapat berlangsung beberapa menit atau satu jam bahkan lebih. Jika belum menemukan puting payudara ibunya dalam waktu satu jam, biarkan kulit bayi tetap bersentuhan dengan kulit ibunya sampai berhasil menyusu pertama.

8) Bagi ibu-ibu yang melahirkan dengan tindakan, seperti operasi, vaccum agar diberikan kesempatan skin to skin contact.

9) Bayi dipisahkan dari ibu untuk ditimbang, diukur dan dicap setelah satu jam atau menyusu awal selesai. Prosedur yang invasive, misalnya suntikan vitamin K dan tetsan mata bayi dapat ditunda.

10) Dengan rawat gabung ibu akan mudah merespon bayi selama 24 jam ibu dan bayi tetap tidak dapat dipisahkan dan bayi selalu dalam jangkauan ibu. Pemberian minuman pre-lakktal (cairan yang diberikan sebelum ASI keluar) dihindarkan.

Dalam IMD akan melalui 5 tahap perilaku sebelum bayi tersebut menyusu yakni : 11)

1) Dalam 30 menit pertama, stadium istirahat/diam dalam keadaan siaga. Bayi diam tidak bergerak sesekali matanya terbuka lebar melihat ibunya. Masa tenang yang istimewa ini merupakan penyesuaian peralihan dari keadaan dalam kandungan ke keadan luar kandungan.

2) Antara 30 – 40 menit, mengeluarkan suatu, gerakan mulut seperti mau minum, menciup dan menjilat tangan. Bayi mencium dan merasakan cairan ketuban yang ada ditangannya. Bau ini sama dengan bau cairan yang dikeluarkan oleh payudara ibu. Bau dan rasa ini akan membimbing bayi untuk menemukan payudara dan puting susu ibu,

3) Mengeluarkan air liur, saat menyadari bahwa ada makanan disekitarnya, bayi mulai mengeluarkan air liurnya.

4) Bayi mulai bergerak ke arah payudara. Areola sebagai sasaran, dengan kaki menekan perut ibu. Bayi akan menjilat-jilat kulit ibu, menghentak-hentakan kepala, menoleh kekanan dan kekiri, serta menyentuh dan meremas daerah puting susu dan sekitarnya dengan tangannya.

5) Menemukan, menjilat, mengulum puting, membuka mulut lebar, melekat dan menyusu dengan baik


Menurut UNICEF, seorang anak yang diberi ASI diDunia mempunyai kesempatan untuk bertahan hidup semasa bayi 3 kali lebih besar dibanding temannya yang tidak memperoleh ASI. Inisiasi menyusu dini telah dicanangkan oleh UNICEF dan pemerintah Indonesia sebagai bagian dari upaya mengoptimalkan pemberian ASI. Sebagai bagian manajemen laktasi yang relative baru, inisiasi menyusu dini perlu disosialisasikan secara benar dan luas, tidak hanya kepada kalangan tenaga medis tetapi juga masyarakat.8)

Apalagi di Negara berkembang, khususnya didaerah yang penduduknya berpendidikan rendah dan tingkat ekonomi rendah, pengetahuan ibu mengenai perawatan dan pemberian makanan bayi khususnya mengenai manfaat air susu ibu (ASI) sangat kurang 11)

Insiasi menyusu dini merupakan salah satu indikator penting dalam pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak adalah pertumbuhan dan perkembangan bayi. Tentang masalah inisiasi menyusu dini memang masih menjadi hal yang baru bagi masyarakat Indonesia. Khususnya di daerah pedesaan. Kurangnya pengetahuan di daerah pedesaan tentang pentingnya memberikan ASI dalam satu jam pertama pada awal kehidupannya merupakan hal yang sangat mendasar dalam pemberian inisiasi menyusu dini. Faktor-faktor penyebab tidak diberikannya ASI dalam satu jam pertama terletak pada sulitnya ibu-ibu dalam menyusui bayinya diantaranya disebabkan karena produksi ASI kurang sehingga secara keseluruhan proses menyusui terganggu dan akhirnya terhenti.

Pemberian inisiasi menyusu dini juga bisa memberikan ikatan psikologis yang kuat antara ibu dan bayinya karena adanya kontak langsung antara tubuh bayi dengan ibu. Pengalaman emosional yang terekam diotak bayi dan juga sebaliknya kontak kulit dini besar pengaruhnya pada perkembangan bayi kelak. Interaksi saat menyusui antara ibu dan bayinya meningkatkan rasa aman dan ini penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri pada bayi. Bayi dapat mulai mempercayai orang lain (ibu), sehingga menimbulkan percaya diri yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, bayi lebih siaga dan responsif serta cepat beradaptasi dengan kehidupan diluar rahim.8)

Pengaruh dari ASI pada bayi yaitu akan lebih tumbuh sehat dengan peningkatan BB 500-1000 gram tiap bulan. Bayi ASI lebih kebal dari infeksi, risiko obesitas, dimana obesitas akan menambah risiko timbulnya penyaki-penyakit lain seperti jantung, diabetus mellitus, hipertensi dan lain-lain. Isapan bayi pada payudara ibu juga akan merangsang terbentuknya oksitosin oleh kelenjar hipofisis. Oksitosin ini berguna membantu involusi uterus dan mencegah terjadinya perdarahan pasca persalinan. Berkurangnya perdarahan pasca persalinan mengurangi anemia pada ibu post partum. Jika ibu anemi respon menghisap bayi lambat sehingga produksi ASI menurun akhirnya aktifitas menyusui terhenti dan berakibat menurunnnya kecerdasan bayi serta gangguan psikomotorik 22, 23, 24)

Inisiasi menyusui dini memang hanya satu jam, namun pengaruh terhadap bayi seumur hidupnya. Menyusui juga mampu menjarangkan kehamilan karena hormon yang mempertahankan laktasi menekan hormon untuk ovulasi. Ibu menyusui juga mampu menurunkan insiden kanker payudara lebih rendah. 7,15). Keyakinan ibu untuk dapat menyusui bayinya dengan sukses melalui inisiasi menyusu dini produksi ASI akan lebih optimal sehingga akan mendukung keberhasilan proses menyusui selanjutnya.


        1. Faktor-faktor yang mempengaruhi Produksi ASI

Menurut Suharyono (1990), beberapa factor yang dapat mempengaruhi produksi ASI adalah sebagai berikut :

          1. Umur dan paritas Ibu :

Hasil penelitian Lipsman et al (1985) dalam ACC/SCN (1991) menemukan bahwa pada ibu menyusui usia remaja dengan gizi baik, intik ASI mencukupi berdasarkan pengukuran pertumbuhan 22 bayi dari 25 bayi. Pada ibu yang melahirkan lebih dari satu kali, produksi ASI pada hari keempat setelah melahirkan lebih tinggi dibanding ibu yang melahirkan pertama kali 31)

          1. Umur Kehamilan (masa gestasi)

Umur kehamilan dan berat lahir mempengaruhi intik ASI. Hal ini disebabkan bayi yang lahir prematur (umur kehamilan kurang dari 34 minggu) sangat lemah dan tidak mampu mengisap secara efektif sehingga produksi ASI lebih rendah daripada bayi yang lahir tidak prematur. Lemahnya kemampuan mengisap pada bayi premature dapat disebabkan berat badan yang rendah dan belum sempurnanya fungsi organ

          1. Penyakit infeksi

Penyakit infeksi baik yang kronik maupun akut yang mengganggu proses laktasi dapat mempengaruhi produksi ASI.

          1. Berat bayi lahir

Prentice (1984) mengamati hubungan berat lahir bayi dengan volume ASI. Hal ini berkaitan dengan kekuatan untuk mengisap, frekuensi, dan lama penyusuan dibanding bayi yang lebih besar. Berat bayi pada hari kedua dan usia 1 bulan sangat erat berhubungan dengan kekuatan mengisap yang mengakibatkan perbedaan intik yang besar dibanding bayi yang mendapat formula. De Carvalho (1982) menemukan hubungan positif berat lahir bayi dengan frekuensi dan lama menyusui selama 14 hari pertama setelah lahir. Bayi berat lahir rendah (BBLR) mempunyai kemampuan mengisap ASI yang lebih rendah dibanding bayi yang berat lahir normal (> 2500 gr). Kemampuan mengisap ASI yang lebih rendah ini meliputi frekuensi dan lama penyusuan yang lebih rendah dibanding bayi berat lahir normal yang akan mempengaruhi stimulasi hormon prolaktin dan oksitosin dalam memproduksi ASI.


B. Kerangka Teori




Sumber : Suharyono (1990) dan Rusli (2008) dengan modifikasi
















BAB III

METODE PENELITIAN


    1. Kerangka Konsep




Gambar Hubungan antara Perawatan Payudara, Inisiasi Menyusu Dini dengan Produksi ASI Pasca Persalinan Ibu.


    1. Hipotesis

Hipotesa yang diajukan dalam penelitian ini adalah :

1. Ada hubungan perawatan payudara dengan produksi ASI ibu pasca bersalin di Rumah Bersalin Annisa, Boyolali

2. Tidak ada hubungan inisiasi menyusu dini dengan produksi ASI pada ibu pasca bersalin di Rumah Bersalin Annisa, Boyolali


    1. Jenis dan Rancangan Penelitian

Jenis penelitian ini termasuk Kohort, yaitu sekelompok subjek penelitian yang belum mengalami pajanan terhadap factor risiko dan belum mengalami penyakit atau efek tertentu diikuti secara prospektif. Secara alami mereka terbagi dalam (1) kelompok dengan factor resiko dan (2) kelompok tanpa resiko. Kemudian kedua kelompok tersebut diikuti sampai waktu tertentu untuk menentukan terjadi atau tidaknya efek yang diteliti.27)

Pada penelitian ini yang dijadikan subyek penelitian adalah ibu pasca salin yang akan diukur produksi ASI nya setelah 30 jam pasca persalinan. Penentuan kelompok faktor resiko diasumsikan pada kelompok ibu bersalin yang melaksanakan inisiasi menyusu dini sedangkan kelompok tanpa resiko diasumsikan pada kelompok ibu bersalin yang tidak melakukan inisiasi menyusu dini. Selain itu pada semua responden akan diamati apakah pernah melakukan perawatan payudara waktu hamil atau tidak.








    1. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan dari obyek penelitian atau obyek yang akan di teliti.26) Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu-Pasca salin yang pernah di rawat di Rumah Bersalin Annisa, Boyolali. Berdasarkan data di RB Annisa tahun 2008 jumlah seluruh persalinan rata-rata 504 persalinan atau per bulan rata-rata ada 45 pasien

2. Sampel

Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan obyek yang di teliti dan dianggap mewakili seluruh populasi 28) Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagian ibu pasca salin yang dirawat di RB Annisa Boyolali dengan jumlah responden ditentukan dengan menggunakan rumus Stanley Lameshow (1982)29)

Pengambilan sample menggunakan rumus Stanley Lameshow (1982), adalah sebagai berikut : 29

n = NZα P(1 –P)/ (N- 1)G2 + Zα P(1 – P)

Keterangan

n = jumlah sampel

N = jumlah anggota populasi

P = proporsi dari ibu yang memberikan ASI dengan jumlah cukup = baik = 0,50 dan yang memberikan ASI dengan jumlah kurang 0,50

Z = 1,96 (nilai baku normal)

G = d = galat pendugaan = 0,15

Untuk nilai P = 0,35 – 0,65

Di RB Annisa dari data tahun 2008 rata-rata ada 45 ibu yang melahirkan per bulan, maka sampel dapat dihitung dalam rumus sebagai berikut :

N = 45

n = NZ2α P(1 –P)/ (N- 1)D2 + Z2α P(1 – P)

n = 45 x (1,96)2 x 0,50 x (1 – 0,50)/ (45 – 1 ) x (0,15)2 + (1,96)2 x 0,50 x (1 – 0,50)

n = 45 x 3,84 x 0,50 x 0,50 / 44 x 0,0225 + 3,84 x 0,50 x 0,50

n = 43,2/0,99 + 0,96

n = 43,2/ 1,95

n = 22,15 atau dibulatkan 22 sampel


Dalam penelitian ini akan menggunakan 44 ibu bersalin yang akan dipilih sebagai responden, kemudian dari 44 responden akan dijadikan dua kelompok pengamatan yang masing-masing anggotanya berjumlah 22 ibu bersalin.

Kelompok pertama melaksanakan inisiasi menyusu dini dan kelompok kedua tidak melakukan inisiasi menyusu dini, kemudian setelah 30 jam persalinan kedua kelompok pengamatan akan diukur produksi ASI nya menggunakan borspump dan gelas ukur.

Pemilihan anggota sampel harus memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi sebagai berikut :

Kriteria inklusi :

  • Ibu pasca salin yang di rawat di RB Annisa Boyolali

  • Waktu dirawat bulan April – Mei 2009

  • Merupakan persalinan normal/ fisiologis

  • Bersedia dijadikan responden

Kriteria esklusi :

  • Persalinan dengan tindakan/ pathologis

  • Tidak bersedia dijadikan responden


    1. Variabel penelitian

- Variabel bebas (dependent variabel) : Perawatan payudara dan Inisiasi

Menyusu Dini

- Variabel terikat (independent variabel) : Produksi ASI

- Variabel perancu (Counfounding) : Umur ibu, paritas, penyakit

infeksi, berat bayi lahir, usia

gestasi


    1. Definisi Operasional

Variabel

Defisinisi Operasional

alat dan metode

Kategori

Skala data

Perawatan payudara

Aktifitas yang dilakukan ibu hamil dalam rangka menyiapkan diri agar produksi ASI cukup setelah melahirkan

Chek list

Wawancara


  • Dilakukan benar

  • Dilakukan tidak benar

Nominal

Inisiasi Menyusu dini

Tindakan dengan cara meletakkan bayi segera setelah lahir di dada ibunya dan membiarkan bayi ini merayap untuk menemukan puting susu ibu untuk menyusu

Chek list

observasi

  • Dilakukan dengan benar



  • Tidak dilakukan dengan benar


Nominal

Produksi ASI

Keadaan yang menunjukkan keluarnya ASI setelah 30 jam pasca persalinan yang dikeluarkan setelah 30 menit tidak di hisap oleh bayi dengan menggunakan borspump pada Payudara kanan dan kiri masing-masing 7,5 menit secara bergantian

Chek list

Borspump

Gelas ukur

Observasi


- cukup, bila jumlah ASI ≥ 3,125 ml per 15 menit

- kurang, bila jumlah ASI <>


Nominal





    1. Instrumen Penelitian

      1. Buku pedoman pelatihan perawatan payudara : digunakan untuk bahan pengajaran bagi responden yang menjadi kelompok perlakuan

Metode pelatihan : ceramah, tanya jawab dan demontrasi

Pelaksana : Peneliti dibantu 2 orang petugas RB Anissa

      1. Chek List, digunakan untuk mengukur :

        1. Inisiasi menyusu dini, caranya dengan melakukan pengamatan langsung (observasi) pelaksanaan inisiasi menyusu dini dilakukan segera setelah bayi lahir

        2. Produksi ASI, caranya dengan melakukan pemompaan pada salah satu payudara setelah tidak dihisap oleh bayi selam 10 menit.

      2. Alat bantu lain yang digunakan adalah borspump, gelas ukur, stopwacth, buku catatan lapangan, alat tulis, tape recorder dan kamera.


    1. Pengolahan dan Analisa Data

      1. Pengolahan Data

Data hasil pengamatan sebelum dianalisa perlu dilakukan pengolahan terlebih dahulu, yaitu melalui tahapan sebagai berikut :

        1. Editing

Memeriksa data yang dikumpulkan dari chek list, untuk mengecek kebenarannya.

        1. Coding

Pemberian kode pada variable yang diteliti, yaitu :

1) Perawatan payudara saat hamil : Dilakukan perawatan dengan benar kode 1, tidak dilakukan dengan benar kode 0

2) Inisiasi Menyusu Dini : Dilakukan dengan benar kode 1, atau tidak dilakukan dengan benar kode 0

3) Produksi ASI : cukup kode 1 dan kurang/ tidak ada kode 0

        1. Tabulating

Menyusun data dalam table kemudian dianalisis yaitu data dikelompokkan dalam bentuk table menurut sifat-sifat yang dimiliki sesuai dengan tujuan penelitian.17)

Setelah data dikelompokkan kemudian dianalisis menggunakan PC Komputer program SPSS versi 15.0. Uji statistik yang digunakan berdasarkan skala data hasil pengukuran adalah Chi Square.


      1. Analisis Data

Analisis data menggunakan Rumus Chi square yaitu :



Keterangan :

X2 = chi squere

fo = frekuensi yang diobservasi

fh = frekuensi yang diharapkan




      1. Interpretasi Data

        1. Pengujian hipotesa dilakukan pada derajat kepercayaan 95 % atau tingkat kesalahan 5 % dengan nilai a = 0,05

        2. Apabila hasil perhitungan Chi square dengan SPSS didapat nilai p value <>

        3. Apabila hasil perhitungan Chi square dengan SPSS didapat nilai p value > nilai alpha (0,05), maka hipotesa nol diterima dan hipotesa alternatip ditolak. Kesimpulannya “Tidak ada hubungan antara variabel yang diteliti (perawatan payudara dan IMD) dengan produksi ASI”

















DAFTAR PUSTAKA


1 Siregar, M., 2004. Pengaruh Pengetahuan Ibu terhadap Kurang Kalori Protein Pada Balita. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Sumatera Utara.

2 Soetjiningsih, 1997. Tumbuh Kembang Anak. EGC, Jakarta

3 Kepmenkes, 2002

4 Peran ASI terhadap Mordibitas dan Mortalitas http://www.damandiri.or.id Diperoleh 28 Nopember 2008

5 Profil Kesehatan Boyolali, Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali Tahun 2008

6 Hullyana. 2007. Produksi ASI dan Faktor Yang Mempengaruhinya http://www.dinkesjateng .org/profil2005/bab5.htm.

7 George Adriaans, 2008, Jaringan Nasional Pelatihan Klinik – Kesehatan Reproduksi. http://www.pkmi-online.com/download/ASUHAN%20ANTENATAL.pdf.

8 Kebutuhan Besi Pada Ibu Menyusui http://www.damandiri.or.id

9 Saeful Anwar, 2003. Praktis. Perawatan Payudara Selama Hamil. http : // asysyariah . com / syariah . php ? menu = detil & id_online = 124.

10 Varney H., 2008. Buku Ajar Ilmu Kebidanan, Pernerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

11 Roesli U., 2008. Inisiasi Menyusu Dini dan ASI Ekslusif. Pusataka Bidan, Jakarta.

12 Inisiasi-Menyusu-Dini:http//kumpulan.info/keluarga/anak/40-anak/99-imd.html

13 MHD. Arifin Siregar, 2000. Pemberian ASI Ekslusif dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Bagian Gizi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara

14 Lawrence, R.A., 1985. Breast Feeding. A Guide for The Medical Profession. Second Edition. The CV Mosby Company, Toronto

15 Anonim, 2006. Perawatan Payudara. http:// bagibagi. com/dewasa/1-hamil/payudara.htm

16 Suririnah, 2007. Perawatan Payudara Selama Kehamilan. http:// www. infoibu.com/tipsinfosehat/payudara.htm

17 Buku Kebidanan, Ilmu Kesehatan Gizi, Jilid I, Universitas Indonesia, Cetakan ke 10, Jakarta 2002

18 Varney. H, 2008, Buku Ajar Ilmu kebidanan, EGC, Jakarta.

19 Irma Linda, 2008. Gambaran Pengetahuan Bidan Praktek Swasta Tentang Inisiasi Menyusu Dini di Wilayah Kerja Puskesmas Tuntungan Kecamatan medan, Tuntungan Tahun 2008. Program Studi D-III, Kebidanan Medan, Jurusan Kebidanan, Politeknik Kesehatan Departemen Kesehatan Medan. Bidan. Media Komunikasi Bidan dan Keluarga. Vol. XII. No. 6 Tahun 2008 Diterbitkan oleh Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Jl Johar Baru V/13D, Jakarta.

20 Manuaba I.G.D., 2008. Gawat Darurat Obstetri dan Ginekologi Untuk Profesi Bidan. Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

21 Roesli Utami, 2002. Asi Eksklusif. Trubus Agrundaya. Jakarta

22 Solihin Pujiadi, 2001, Ilmu Gizi Klinis Pada Anak, FKUI, Jakarta

23 Winarno F.G. 2000. Gizi dan Makanan Bagi Bayi dan Anak Sapihan. Jakarta: Sinar Harapan

24 Papalaya, 2007. Pekan Asi Sedunia. http://www.detiksnew.com.

25 Suharsimi Arikunto, 1999, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Rineka Cipta, Jakarta.

26 Notoatmodjo, S., 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta

27 Sudigdo Sastroasmoro dan Sofyan Ismael, 1995. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jakarta

28 Prof. Dr. Sudarwan Danim Darwis, 2003. Metode Penelitian Kebidanan : Prosedur, Kebijakan, dan Etik. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

29 Stanley Lemeshow, David W. Hosmer Jr., and Janelle Klar, and Stepen K. Lwanga. 1990. Adequacy of Sample Size in Health Studies, University of Masschusetts and World Health Organization, Published on behalf of the World Health Organization by John Wiley & Sons Cpyright 1990, by world Health Organization, terjemahan drg. Dibyo Pramono, SU, MDSc., 1997. Besar Sampel dalam Penelitian Kesehatan, Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

30 Suharyoso, 1990 http://www.damandiri.or.id/file/evawanyaritonangipbbab2.pdf.


31. Susahnya ASI Ekslusif, 2008 dalam www. Ibu dan anak . com / indekx . php ? option = com _ content & task=view&id=127&itemid=9)




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar